Feeds:
Posts
Comments

Aku sudah menceritakan pada posting sebelumnya bahwa aku sedang mengumpulkan dan mempertajam kemampuanku sebagai seorang engineer. Tidak seperti pada saat awal-awal bekerja dimana aku hanya mengangani satu proyek secara aktif, kini setidaknya ada empat proyek yang aku tangani sekaligus. Walau begitu masing-masing proyek mengalami progres yang berbeda-beda, ada yang menuju tahap finishingon progress, dan sedang akan dimulai. Berikut daftarnya :

  1. Proyek Bankable Feasibility Study feronikel. Status : finishing
  2. Proyek Audit Energi Pertamina Field Rantau. Status : on progress
  3. Proyek Engineering Pabrik Gondorukem. Status : on progress
  4. Proyek Bankable Feasibility Study, Basic Design, dan Reassessment pabrik karboksimetil selulosa. Status : sedang akan dimulai

Walaupun kelihatannya banyak, anehnya aku macam pengangguran ketika berada di kantor. Melamun, ngupil, dan browsing adalah sebagian kegiatan rutinku. Jangan tanya apakah pekerjaanku kelar… Hahaha… just kidding

Menangani empat proyek anehnya tidak sesulit yang aku duga. Namun, masalah waktu alias deadline hampir menjadi mimpi buruk di tengah siang. Saat awal-awal kerja, menangani dua proyek saja sudah keteteran. Tapi sekarang, rasanya aku sudah mulai membiasakan diri. 

Aku senang lingkaran pergaulanku semakin membesar dengan semakin banyaknya proyek yang ditangani. Misalnya pada proyek EPC pabrik Gondorukem, aku sering berdiskusi dengan engineer-engineer muda yang duduk di sekelilingku. Dulu, mana ada hal ini terjadi. Tapi sekarang hal ini menjadi kebiasaan sehari-hari.

Aku senang, tapi juga lelah. Aku mencoba menikmati bekerja layaknya menikmati makanan. Ammm.. 

“Baru tahu lo kalo hidup berawal dari mimpi?”

“Kata orang seh begitu, tapi baru sekarang gue ngerasain hal itu bener.”

“Berarti selama ini lo ga pernah bermimpi?”

“Hmm, susah jawabnya”

Aku jamin topik dan judul tulisan ini benar-benar sudah basi. Entah berapa ratus orang, berapa ribu lagu, atau berapa juta puisi yang mengungkap tema ini : hidup berawal dari mimpi. Tapi poin yang menarik untuk dicermati adalah berapa banyak orang yang benar-benar membuktikannya. Apakah orang itu salah satunya kamu? Hanya kamu sendiri yang tahu jawabannya. Continue Reading »

Alergi

Ketika di Indonesia, orang itu tidak terkena alergi. Namun sejak tinggal di pulau Formosa ini, secara misterius dia terkena alergi. Bukan sejak menginjakkan kaki di sini tepatnya melainkan setelah dia menerima beberapa penghargaan yang sejujurnya biasa-biasa saja.

Dasar udik jika ingin ku kata. Dia pun berbangga-bangga. Kepalanya setengah mendongak. Langkahnya angkuh seolah ingin mengatakan “Hai kalian semua, perhatian aku. Semua mata harus tertuju padaku”. Continue Reading »

Kemarin aku menonton kembali film Precious, sebuah film yang menceritakan seorang tokoh bernama Precious yang menjadi korban kekerasan fisik dan seksual di dalam kehidupan keluarganya. Karena ia pada akhirnya hamil (bahkan hamil untuk kedua kalinya), ia dikeluarkan dari sekolah lamanya (regular school) lalu pindah sekolah ke Each One Teach One, sebuah sekolah alternatif untuk anak-anak yang mengalami masalah.  Continue Reading »

Saya tidak heran mengapa pria kelihatannya lebih baik dalam bidang matematika dan engineering dibandingkan wanita. Walau begitu hal tersebut tidak selalu berlaku demikian. Saya mengenal beberapa teman saya yang berjenis kelamin perempuan pintar matematikanya.

Bagaimana dengan saya? Saya pribadi kurang suka matematika, tepatnya takut dengan segala kerumitan dalam matematika. Saat psikotes dulu, saya memang lebih baik dalam bidang bahasa dibandingkan dengan matematika. Tapi bukan berarti saya jelek dalam bidang matematika.

Saat saya bekerja sekarang ini, dengan title process engineer yang dicetak dalam kartu nama saya, penguasaan matematika dan engineering sepertinya menjadi asumsi bagi setiap orang yang baru mengenal saya. Nyatanya, sense of number saya bisa dikatakan rendah.  Continue Reading »

Aku masih berpikir aku adalah manusia yang bodoh dan berpikiran sempit. Hal ini entah berlaku dalam seluruh konteks kehidupan atau dalam aspek-aspek tertentu, seperti di dunia kerja. 

Aku agak tergelitik dengan lelucon seorang klien kami dalam menanggapi kebijakan terbaru presiden SBY tentang kenaikan BBM. Begini bunyinya:

“SBY memang bergelar Dokter. Walau begitu, SBY tidak belajar dari sejarah Soeharto”.

Salah satu kesimpulan yang kutarik dari ucapan klienku tersebut adalah gelar seseorang tidak menjamin ia belajar banyak dan mampu mengambil pelajaran dari kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. Kasarnya, mungkin, gelar, dalam beberapa hal, tidak menjamin seseorang pandai dan bijak dalam bertindak. Justru ada faktor lain yang lebih penting dari gelar.

Yang menjadi masalah rumit bin ruwet adalah tuntutan gelar itu sendiri. Mungkin di belahan bumi lain ada orang yang berkomentar tidak jauh berbeda dengan komentar klienku tersebut.

“SBY bergelar Doktor, tapi tidak mampu memecahkan masalah negara. Soeharto saja SD tidak lulus.”

Jangan salah persepsi. Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi SBY lantas mengagung-agungkan Soeharto. Sekali lagi. Apa yang dilakukan orang lain adalah cermin terbaik atas diri kita sendiri. 

Bagaimana denganku? Coba kita ganti SBY dengan Rifka dan Dokter dengan Master

“Rifka memang bergelar Master. Walau begitu…”

“Rifka bergelar Master, tapi…”

Readicide

Bapak-bapak, Ibu-Ibu, Teteh-teteh, dan Adik-adik sebangsa dan setanah air. Dengarkan saya sejenak saja. Saya mau curhat tapi entah kepada siapa saya harus curhat. Ingin curhat kepada orangtua, rasanya kasihan. Mungkin mereka sedang istirahat saat ini. Curhat kepada cecak-cecak di dindingpun rasanya tidak mungkin karena dapat dipastikan saya malah akan bernyanyi bukan curhat. Maka dari itu, please, I beg you, dengarkan curhat saya lima menit saja, ok? Continue Reading »